Kamis, 20 Oktober 2011

Faktor Yang Mempengaruhi Berdirinya Muhammadiyah





Faktor Yang Mempengaruhi Berdirinya Muhammadiyah



A.     Sekilas Tentang Pendiri Muhammadiyah


Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau bertepatan dengan tanggal 18 November 1912. Beliau lahir pada tahun 1868 disebuah pemukiman disekitar Masjid Besar Yogyakarta yang bernama Kampung Kauman dengan nama aslinya yaitu Muhammad Darwisy.

Muhammad Darwisy merupakan salah satu anak dari KH. Abu Bakar, seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Berdasarkan silsilah, Beliau masih termasuk dalam garis keturunan yang kedua belas dari Sunan Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali Besar dan terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dalam penyebaran dan pengembangan Agama Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

Dimasa kecilnya, Muhammad Darwis mengenyam pendidikan dalam lingkungan keagamaan disebuah Pesantren yang mengajarinya tentang pengetahuan agama Islam dan Bahasa Arab. Diusianya yang masih relatif muda, yaitu pada umurnya yang ke-15, beliau menunaikan Rukun Islam yang ke lima yaitu Ibadah Haji pada tahun 1883. Selanjutnya disana Beliau Menetap dan memperdalam pengetahuan tentang Ilmu Agama Islam di Makkah dalam kurun waktu kurang lebih selama 5 tahun. Selama belajar ilmu agama disana, Beliau kerap kali berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan didalam dunia Islam saat itu. Tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibn Taimiyah rupanya mempunyai dampak yang sangat besar pada diri pribadi Muhammad Darwisy. Seketika itu jiwa dan pemikirannya dipenuhi oleh semangat pembaharuan yang kelak dikemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah.

Sekembalinya dari Makkah, yaitu pada usia 20 tahun (1888), Beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, Beliau diangkat menjadi khatib amin dilingkungan Kesultanan Yogyakarta. Berbekal dari pemikiran-pemikiran yang didapat selama mendalami ajaran agama Islam di Makkah, Beliau merasa bertanggung jawab untuk dapat membangunkan, menggerakkan dan memajukan umat Islam di Indonesia. Ahmad Dahlan sadar bahwa keinginannya itu tidaklah mungkin dilaksanakan seorang diri, melainkan harus dilaksanakan oleh sekumpulan orang yang diatur sedemikian rupa dalam wadah organisasi.

Pendirian Muhammadiyah itu sendiri pada awalnya mendapatkan kecaman-kecaman dari berbagai pihak, baik yang datangnya dari keluarga sendiri maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan ditujukan kepadanya. Pada saat itu Beliau dituduh  hendak mendirikan suatu agama baru yang menyalahi ajaran-ajaran agama Islam yang telah ada. Namum demikian, segala rintangan-rintangan tersebut dapat dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi segala rintangan tersebut.


B.     Arti Kemuhammadiyahan


Muhammadiyah sudah dikenal luas sejak beberapa puluh tahun yang lalu oleh masyarakat Internasional, khususnya oleh masyarakat Islam. Nama Muhammadiyah sudah sangat akrab ditelinga masyarakat pada umumnya.

Adapun arti nama Muhammadiyah dapat dilihat dari dua segi, yaitu :

1.      Arti Bahasa atau Estimologis
Muhammadiyah berasal dari bahasa Arab “Muhammad” yaitu nama Nabi atau Rasul Allah SWT yang terakhir. Kemudian mendapatkan “ya nisbiyah” yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti umatnya Nabi Muhammad SAW atau pengikut Nabi Muhammad SAW. Yaitu semua orang yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Allah SWT yang terakhir. Dengan demikian siapapun yang beragama Islam maka dia adalah orang Muhammadiyah, tanpa dilihat atau dibatasi oleh perbedaan organisasi, golongan, bangsa, geografis, etnis, dsb.

2.      Arti Istilah atau Terminologis
Muhammadiyah adalah gerakan Islam. Dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar berasaskan Islam dan bersumber Al-Quran dan Sunah/Hadist. Didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H, bertepatan tanggal 18 November 1912 M dikota Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama Muhammadiyah dengan maksud untuk berta’faul (berpengharapan baik) dapat mencontoh dan menteladani jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW, sehingga umat Muhammadiyah merasa bangga dan terhormat dengan agama yang dianutnya dan tidak merasa malu kepada siapapun. Dalam rangka menegakkan dan menjujung tinggi agama Islam semata-mata demi terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai idealitas dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai realitas.


C.      Sebab-Sebab Berdirinya Muhammadiyah


Muhammadiyah sendiri berdirinya dengan dilatarbelakangi untuk memperbaharui pemahaman tentang ke-Islaman di sebagian besar dunia Islam di Indonesia yang pada saat itu dianggap masih bersifat ortodoks (kolot), serta masih bercampur aduknya ajaran agama Islam dengan ajaran agama yang terdahulu atau kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. Bercampur aduknya ajaran Islam dengan kebudayaan Non Islam itu sendiri sebenarnya dapat dimaklumi pada saat awal-awal penyebaran agama Islam di Indonesia. Hal ini mengingat sulitnya masyarakat pada waktu itu untuk meninggalkan kebiasaan atau ajaran yang telah lama mereka anut sejak nenek moyang, sehingga kebiasaan tersebut masih dilakukan walaupun dengan memasukan unsur Islam didalamnya. Namun seiring dengan berlalunya waktu, kebiasaan-kebiasaan atau cara-cara yang dianggap masih bercampur tersebut masih kerap dilakukan meskipun sudah berabad-abad berlalu sejak awal masuknya Islam di Indonesia, oleh karena itu Beliau (KH. Ahmad Dahlan) memandang hal ini dapat menimbulkan kebekuan ajaran Islam, stagnasi dan keterbelakangan didalam diri umat Islam. Beliau berpikir, pemahaman keagamaan yang demikian, harus diubah melalui gerakan pemurnian ajaran Islam yang kembali kepada ajaran Al-quran dan Al-Hadist.

Untuk itu pada tanggal 18 Nopember 1912, KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi non politik yang bersifat sosial dan bergerak dibidang pendidikan yang diberi nama “Muhammadiyah”, KH. Ahmad Dahlan berkeinginan untuk mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam yang murni, yaitu menurut tuntunan seperti yang diajarkan didalam Al-Quran dan Al-Hadist.

Faktor-faktor yang menyebabkan didirikan Muhammadiyah, yaitu :

1.      Faktor Subyektif
Faktor subyektif yang sangat kuat, bahkan dikatakan sebagai faktor utama dan faktor penentu yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap Al-Quran dalam menelaah, membahas, meneliti dan mengkaji kandungan isinya.

Sikap KH. Ahmad Dahlan seperti ini sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah SWT sebagaimana yang tersimpul dalam surat An. Nisa ayat 82 dan surat Muhammad ayat 24, yaitu melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian terhadap apa yang tersirat dalam ayat.

Sikap seperti ini pulalah yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan ketika menatap surat Ali Imran ayat 104 yang artinya ”Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.

Memahami seruan diatas, KH. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk membangun sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi, yang tugasnya berkhidmad pada melaksanakan misi dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar ditengah masyarakat kita.

2.      Faktor Internal
Faktor internal yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah:
·         Rusak dan hinanya umat islam dalam bidang sosial, baik dalam bidang politik, ekonomi, kebudayaan serta keagamaannya.
·         Tidak tegak nya hidup dan kehidupan agama islam dalam diri orang dan masyarakat.
·         Tidak bersihnya islam akibat bercampurnya dengan berbagai macam faham sehingga timbulnya bid ah, syirik.
·         Kurang adanya persaudaraan dan persatuan umat islam dalam membela kepentingan islam.
·         Belum selesai dan sempurnya perjuangan para wali dalam pengembangan agama islam di indonesia.

3.      Faktor External
Beberapa Faktor External yang juga mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah:
·         Adanya pengaruh gerakan reformasi dan purifikasi yang di pelopori oleh Jamaluddin Al Afghani Muhammad Abduh, serta Muh. Abd. Wahab.
·         Kegiatan-kegiatan kristening politik, yaitu usaha-usaha misi dan zending yang bermaksud mengkristenkan umat islam Indonesia.
·         Adanya penjajahan kolonialis, yang membelenggu umat Islam Indonesia dan penestrasi kebudayaan barat, sehingga menimbulkan sikap acuh tak acuh bahkan mencemohkan Islam dari kalangan pelajar Indonesia,dan akibat-akiabat negatif lainnya.


D.     Maksud dan Tujuan Muhammadiyah


Muhammadiyah sebagai gerakan Islam memiliki cita-cita ideal yaitu mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya.

Ø  Maksud dan Tujuan Muhammadiyah 1912 – 2005 :
1.      1912   :  Maka Perhimpunan itu maksudnya:
a.       Menyebarluaskan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputera di dalam residensi Yogyakarta.
b.      Memajukan hal Igama kepada anggauta-anggautanya

2.      1914   :  Maksud Persyarikatan ini yaitu:
a.       Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama Islam di Hindia Nederland.
b.      Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lid-nya.

3.      1921   :  Maksud Persyarikatan ini yaitu:
a.       Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama Islam di Hindia Nederland.
b.      Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lid-nya.

4.      1934   :  Hajat Persyarikatan yaitu:
a.       Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland.
b.      Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lid-nya (segala sekutunya).

5.      1941   :  Hajat Persyarikatan yaitu:
a.       Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Indonesia.
b.      Memajukan dan menggembirakan cara hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lid-nya (segala sekutunya).

6.      1943   :  Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh Asia Raya, di bawah pimpinan Dai Nippon, dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah, maka perkumpulan ini:
a.       Hendak menyiarkan agama Islam, serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunannya
b.      Hendak melakukan pekerjaan kebaikan kebaikan umum
c.       Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggauta-anggautanya; kesemuanya itu ditujukan untuk berjasa mendidik masyarakat ramai.

7.      1946   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ini akan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

8.      1950   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ini akan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

9.      1950   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ini akan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

10.  1959   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

11.  1966   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

12.  1968   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

13.  1985   :  Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata‘ala.

14.  2000   :  Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

15.  2005   :  Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Sumber: Hasil pengolahan dari himpunan Mh. Djaldan Badawi, Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah 1912-1985 (Yogyakarta: Sekretariat PP Muhammadiyah), 1998. Dan dokumen PP Muhammadiyah untuk tahun 2000 dan 2005.


E.      Indentitas Muhammadiyah


Tiga identitas Muhammadiyah :
1.      Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah jelaslah bahwa sesungguhnya kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena diilhami, dimotivasi dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al Qur'an. Dan apa yang digerakkan oleh Muhammadiyah tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam dalam kehidupan yang riel dan kongkrit.

2.      Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam, Amar Ma’ruf nahi mungkar. Ciri ini telah muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tak terpisahkan dalam jati diri Muhammadiyah. Namun sudah menjadi tanggung jawab Muhammadiyah juga sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar untuk meluruskan kembali niatan awal berdirinya Muhammadiyah yang sesuai dengan cita-cita pemikiran KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah dapat mengangkat agama Islam dan keterbelakangan atau kebodohan massif.
Tidak hanya ranah pemahaman agama yang diluruskan namun juga ranah pemahaman maksud dan tujuan organisasi Muhammadiyah, karena Muhammadiyah adalah pure/murni sebuah organisasi kemasyarakatan.

3.      Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid (Reformasi)
Ciri ketiga ini yang melekat pada persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Tajdid atau Pembaharu. Apabila dari makna dalam segi bahasa Tajdid berarti pembaharuan, dan dari segi istilah tajdid memiliki dua arti yakni :
a.       Pemurnian
“Pemurnian” tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matang ajaran Islam yang berdasarkan sumber Al Qur'an dan As Sunnah shahih.
b.       Peningkatan, Pengembangan dan Modernisasi
Peningkatan, pengembangan, modernisasi sudah menjadi tugas Muhammadiyah. Segi istilah tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran pengamalan dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada Al Qur'an dan AS Sunnah shahih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar